Judul Buku: Candik Ayu Segaramadu
Penulis: Andri Saptono
Tebal: 180 hlm, 14 x 20 cm
Harga: 60.000,-
Sinopsis
Novel Candik Ayu Segaramadu lahir dari ingatan yang tidak sepenuhnya ingin pulang, tetapi juga tak bisa dilupakan. Ia tumbuh dari pengalaman bekerja bertahun-tahun di sebuah pabrik gula di Jawa Tengah—ruang kerja yang keras, berisik, penuh debu, dan menyimpan kisah-kisah manusia yang jarang tercatat dalam sejarah resmi.
Pabrik gula dalam novel ini bukan sekadar latar, melainkan semacam tubuh tua yang pelan-pelan kehilangan denyutnya. Di sanalah para buruh, mandor, penjual jamu, dan orang-orang pinggiran bertemu dalam relasi yang rumit: antara kerja dan bertahan hidup, antara harapan dan kelelahan, antara cinta dan keterdesakan.
Beberapa bagian dalam novel ini mungkin terasa getir, bahkan tidak nyaman. Namun semua itu ditulis dengan itikad untuk merekam kenyataan, bukan untuk menghakimi. Kisah-kisah di dalamnya adalah potret sosial yang pernah—dan mungkin masih—ada di sekitar kita.
Judul Candik Ayu Segaramadu merujuk pada warna langit senja: indah, lembut, tetapi menyimpan pertanda berakhirnya hari. Sebuah metafora bagi manusia-manusia pabrik gula yang hidup di persimpangan antara masa lalu yang manis dan masa depan yang kian samar.
Novel ini pertama kali memperoleh penghargaan Juara I Lomba Novel Dewan Kesenian Jawa Tengah tahun 2011. Versi yang ada di tangan pembaca saat ini telah melalui pemadatan, pengendapan, dan penyuntingan ulang agar lebih jernih, padat, dan setia pada ruh ceritanya.